News

TRANSPORTASI DAN PERGUDANGAN Jangan Usik Geliat Logistik

 

 

Bisnis Indonesia

Oleh: Rinaldi M. Azka

 

Kendati dibayangi oleh resesi dan lesunya pertumbuhan ekonomi nasional, sektor logistik, yang berjalin erat dengan aktivitas transportasi dan pergudangan, tetap bersinar bahkan semakin terang. Jangan sampai sinar itu tiba-tiba meredup di ujung jalan.

 

Memang kinerja logistik hingga kuartal III/2019 masih belum mampu tumbuh sekencang ekspetasi atau diatas 7%. Keadaan ini mencerminkan sektor logistic nasional masih belum mampu keluar dari tekanan, baik ekternal maupun internal.

 

Tekanan eksternal diantaranya muncul akibat dampak perang dagang AS-China yang melunturkan aktivitas ekspor impor. Adapun, tekanan internal karena melemahnya sektor manufaktur yang menyusutkan konsumsi, serta harga komoditas yang fluktuatif.

 

Satu-satunya alasan sektor logistik masih bisa tumbuh pada kuartal III tahun ini karena dampak pembenahan dan peningkatan infrastruktur di sektor transportasi mulai dirasakan hasilnya. Akselerasi transportasi yang semakin lancar mendorong waktu dan biaya distribusi jadi lebih cepat dan murah.

 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan (logistik) pada kuartal III/2019 mencapai 6,63%, lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal III/2018 sebesar 5,64% (year-on-year/yoy).

 

Pencapaian pada kuartal III/2019 manjadi yang tertinggi sepanjang 9 bulan pertama tahun ini, mengingat pada kuartal I dan II/2019 sektor ini mencatatkan pertumbuhan masing-masing 5,25% dan 5,78%.

 

Artinya, melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional tak selamanya berdampak pada tertekanannya pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan.

 

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Indonesia Bidang Transportasi Carmelita Hartoto menilai terdapat 3 hal utama yang perlu diperhatikan oleh pemerintah untuk tetap dapat menjaga sektor transportasi dan pergudangan terus menggeliat.

 

Dia menjelaskan ketiga hal tersebut adalah suasana politik dan keamanan yang kondusif, tak ada gejolak tarif, dan penegakan hukum yang jelas. Jika ketiga hal tersebut terus diusik, seberapa besar pun pertumbuhan ekonomi, tak ada jaminan pertumbuhan sektor logistik ikut menguat.

 

“Pertama kami harapkan kondisi keamanan dipertahankan tetap kondusif. Kedua, para pelaku industri jasa jangan sampai membuat gejolak tarif yang akan memengaruhi arus barang,” paparnya kepada Bisnis.

 

Ketiga, terkait dengan penegakan hukum, dia meminta kejelasan sehingga tidak ada hambatan-hambatan operasional yang mengada-ada. Contoh konkret penegakan hukum ini antara lain banyaknya otoritas keamanan yang mengurusi transportasi laut.

 

JANGAN TERLENA

Supply Chain Indonesia (SCI) mengingatkan pencapaian yang cukup positif pada kuartal III tahun ini jangan membuat para pemangku kepentingan di sektor logistik terlena. Ini lantaran masih banyak pekerjaan rumah untuk membenahi sektor logistik berakselerasi lebih kencang lagi.

 

Chairman SCI Setijadi menuturkan pertumbuhan sektor tranportasi dan pergudangan akan menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi konektivitas antarmoda dan multimoda.

 

Dia mengatakan tantangan konektivitas antarmoda dan multimoda tersebut terjadi pada simpul-simpul transportasi utama seperti pelabuhan, bandara, dan terminal barang. “Diperlukan perbaikan dan pengembangan infrastruktur seperti dermaga pelabuhan berikut peralatan bongkar muatnya,” jelasnya.

 

Selain itu, inefisiensi biaya logistik dapat terjadi karena masalah muatan balik yang tak seimbang (imbalance cargo). Ketidakseimbangan muatan ini terjadi terutama karena ketidakseimbangan pertumbuhan antarwilayah yang bisa dilihat dari kontribusinya terhadap produk domestic bruto (PDB).

 

Berdasarkan analisis SCI terhadap data BPS, Pulau Jawa masih mendominasi kegiatan transportasi dan pergudangan dengan kontribusi terhadap PDB 2018 sebesar 58,48%; diikuti Sumatra 21,58%. Adapun, kontribusi wilayah lainnya masih sangat kecil, baik Kalimantan (8,20%), Sulawesi (6,22%), Bali dan Nusa Tenggara (3,05%), dan Papua (2,47%).

 

“Solusi jangka pendek berupa pengembanagn sistem informasi muatan. Diperlukan aplikasi yang mempertemukan informasi muatan dan ketersediaan sarana pengangkutan,” paparnya.

 

Adapun, solusi jangka panjang berupa peningkatan muatan balik dengan pengembangan komoditas dan produk melalui industrilisasi.

 

“Pemerintah harus melakukan pengembangan wilayah dengan menerapkan paradigma ship promotes the trade. Untuk wilayah yang sudah berkembang, masih bisa digunakan paradigma ship follows the trade,” ujarnya.

 

Dia melanjutkan, infrstruktur seperti pelabuhan dan jalan harus dikembangkan berdasarkan analisis potensi dan rencana pengembangan komoditas dan produk wilayah.

 

SCI melihat upaya pembangunan infrastruktur dan konektivitas yang dilakukan secara masif oleh Presiden Jokowi oada periode pertama sudah mulai memberikan hasil. Ini diindikasikan dengan pertumbuhan PDB wilayah.

 

Dia mencontohkan, walaupun distribusi terhadap PDB terendah, tingkat pertumbuhan kontribusi wilayan Papua, justru tertinggi yaitu 6,99%. “SCI merekomendasikan pembangunan infrastruktur yang tidak berorientasi pada output, seperti jumlah pelabuhan dan bandara, panjang jalan, dan sebagainya,” katanya.

 

Selain itu, menurutnya, petumbuhan positif di sektor logistik, harus didorong dengan membuat biaya logistik lebih efisien. “Kalau tidak bisa efisien, sektor perdagangan dan industri juga akan tumbuh karena selama ini factor biaya logistik yang tinggi menjadi hambatan untuk tumbuh lebih besar,” paparnya.

 

Menurutnya, secara riil, biaya logistik pada tahun ini mengalami kenaikan walaupun terdapat indikasi adanya penurunan biaya logistik terhadap PDB hingga 22,3% dibandingkan dengan kondisi pada 2018 sebesar 23,7%.

 

KUARTAL IV

Carmelita menyatakan kinerja sektor transportasi dan pergudangan sangat fluktuatif dan situasional. Jika tidak ada hal yang dapat membuat sektor ini terusik, dia berharap pertumbuhannya pada kuartal IV/2019 minimal bisa sama dengan kuartal III atau bisa tercapai lebih tinggi.

 

Harapan tersebut, jelasnya, mengandalkan musim puncak atau peak season libur Natal dan Tahun Baru 2019 (Nataru). “Sektor ini sangat fluktuatif dan situasional, dipengaruhi oleh situasi dan kondisi. Kuartal III/2019, lebih baik dari kuartal II/2019, karena telah kondusifnya suhu politik dan keamanan,” jelasnya.

 

Setijadi memprediski tingkat pertumbuhan sektor logistik sepanjang tahun ini bisa mencapai 11,56%, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada 2018 sebesar 8,44%. SCI memprediski tingkat pertumbuhan pada 2019 untuk subsektor transportasi sebesar 11,15% dan subsektor pergudangan sebesar 9,51%.

 

“Sektor logistik menarik bagi investor dalam negeri maupun asing yang ditunjukkan dari realisasi investasi yang besar. Ini hampi berimbang antara PMDN dan PMA pada bidang transportasi dan pergudangan,” katanya.

 

Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) juga optimistis sektor logistik sepanjang tahun ini bertumbuh dengan lebih baik dibandingkan dengan pencapaian tahun lalu.

 

Ketua Umum ALI Zaldy Ilham Masita yakin pertumbuhan sektor logistik atau transportasi dan pergudangan masih mungkin tumbuh di atas 8%, mengingat pada pertumbuhan kuartal III/2019 sudah mencapai 6,63%.

 

Sementara itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan memacu perbaikan aktivitas logistik penopang ekspor dan investasi.

 

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi menuturkan peningkatan kinerja pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh perbaikan kinerja logistik tidak dapat diperbaiki dalam waktu singkat apalagi diselesaikan pada tahun ini.

Another News :

Star Movers Bali   |   Prathama Global Trading   |   XPS Link   |   Chinese Chinese

Copyright © 2015 PT. Prathama Line Logistics