News

Logistik Diyakini Bisa Angkat Daya Saing Industri

 

 

 

Validnews.id

 

Oleh: Teodora Nirmala Fau

 

JAKARTA – Sektor logistik dipandang sebagai salah satu rantai penting dalam meningkatkan daya saing industri nasional. Sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni pun mutlak diperlukan untuk mengakomodasi sektor logistik demi menunjang sektor industri.

 

“Sektor logistik semakin tumbuh pesat seiring bertambahnya industri di dalam negeri, yang tentunya membutuhkan pendistribusian barang secara efektif dan efisien,” ujar Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian, Eko S.A Cahyanto, di Jakarta, Minggu (8/9).

 

Menyadari hal tersebut, pengembangan SDM agar mampu menciptakan kondisi sektor logistik yang ideal bagi industri pun diupayakan kementerian. Salah satu caranya dengan penambahan program studi diploma 1 (D1) distribusi dan transportasi. Terbaru, Kemenperin membuka prodi tersebut di Politeknik Akademi Teknik Industri (ATI) Padang, Sumatra Barat.

 

Eko meyakini, penggenjotan SDM sektor logistik yang berkualitas akan mampu meningkatkan peringkat daya saing Indonesia. Merujuk data World Economic Forum, daya Indonesia pada tahun 2018 berada di posisi ke-45 dari 140 negara. Posisinya naik 2 level dibandingkan tahun sebelumnya.

 

Level tingkat kompetensi Indonesia tersebut sejatinya hanya berada di urutan ke-4 jika dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara. Di mana Singapura menjadi negara jawara terkait tingkat daya saing. Masih dalam data yang sama, Singapura berada di urutan ke-2 dari 140 negara. Negara ASEAN lain yang memiliki tingkat daya saing lebih baik dari Indonesia adalah Malaysia yang berada di posisi 25 dan Thailand di peringkat 38.

 

Meskipun lebih baik daripada tahun 2017, sebenarnya level daya saing Indonesia masih jatuh dibandingkan posisinya di tahun 2015. Kala itu, Indonesia sukses menyabet peringkat daya saing dunia di posisi 34. Pada tahun-tahun berikutnya, level daya saing Indonesia berangsur menurun ke posisi 37 pada tahun 2016 kemudian peringkat 47 pada 2017.

 

Hadirnya prodi D1 terkait logistik, dijelaskannya, semata untuk memenuhi permintaan industri terhadap tenaga kerja yang dapat cepat diserap dan siap kerja dengan kompetensi sesuai kebutuhan. Pasalnya, banyak industri yang mendesak butuh tenaga terampil dan kompeten,

“Pemerintah saat ini fokus pada pengembangan kualitas SDM. Kita ingin SDM unggul untuk mencapai visi Indonesia maju. Hal ini juga untuk menangkap peluang bonus demografi yang akan dinikmati Indonesia,” tutur Eko.

 

Secara nasional, Kemenperin aktif mendorong pembukaan prodi D1 sejak tiga tahun terakhir di sejumlah unit pendidikan vokasi yang dimilikinya.  Prodi D1 dengan berbagai bidang diklaimnya sudah tersebar di 13 kota di Indonesia. Implementasi program D1 di unit pendidikan vokasi Kemenperin memiliki skema kerja sama dengan industri sehingga semua lulusannya terserap kerja.

 

“Bahkan, biaya pendidikan bagi mahasiswa, kami kasih gratis. Alokasi anggaran per mahasiswa sekitar Rp10 juta untuk setahun,” sebutnya.

Untuk prodi D1 distribusi dan transportasi, selain di Politeknik ATI Padang, juga sudah ada di Politeknik APP Jakarta.

 

Selain menggarap sisi pendidikan, Eko melanjutkan, pemerintah juga mendorong pembangunan sejumlah infrastruktur logistik di wilayah-wilayah strategis untuk menunjang daya saing. Tidak terkecuali pembangunan infrastruktur logistik di sentra atau kawasan industri.

 

“Sebab, penyediaan infrastruktur logistik yang memadai akan memacu pula peningkatan investasi di sektor industri,” paparnya.

 

Ia percaya, aktivitas industrialisasi konsisten memberikan dampak berganda bagi perekonomian nasional, baik itu penerimaan devisa maupun penyerapan tenaga kerja. Namun demikian, SDM terampil menjadi faktor utamanya.

 

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Zaldi Ilham Masita mengatakan, bisnis logistik tahun ini akan tumbuh sekitar 10% dibandingkan tahun lalu. Sementara untuk tahun depan, bisnis diperkirakan mampu tumbuh di kisaran 8—9%.

 

Pertumbuhan bisnis logistik di Indonesia sendiri melambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Perang dagang antara Amerika Serikat dan China menjadi salah satu faktor yang memicunya. Faktor ini pula yang mesti diwaspadai sampai tahun depan. Jika tidak, target pertumbuhan bisnis logistik bisa kian tergerus.

 

"Pertumbuhan 10% tidak lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bisnis logistik pada tahun-tahun sebelumnya rentang antara 12—14%," imbuh Zaldi.

 

Another News :

Star Movers Bali   |   Prathama Global Trading   |   XPS Link   |   Chinese Chinese

Copyright © 2015 PT. Prathama Line Logistics