News

Infrastruktur Digenjot, Bisnis Logistik Tumbuh 10%

 

 

 

 

Detik.com

 

Oleh: Zulfi Suhendra

 

Jakarta - Presiden Joko Widodo masih gencar membangun infrastruktur. Hal itu dinilai bisa memicu pertumbuhan angkutan logistik. Pertumbuhan logistik disebut masih bergairah.

 

Salah satunya adalah di sektor transportasi darat berbasis jalan. Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Zaldi Ilham Masita mengatakan, bisnis logistik tahun ini akan tumbuh sekitar 10% dibandingkan tahun lalu. Kemudian, bisnis logistik pada 2020 sekitar 8-9%. Angka itu masih lebih tinggi apabila dibandingkan pertumbuhan ekonomi.

 

"Pertumbuhan 10% tidak lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bisnis logistik pada tahun-tahun sebelumnya rentang antara 12% dan 14%," tutur Zaldi. Kendati demikian, prospek bisnis logistik pada 2020, menurut Zaldi, tetap harus diwaspadai," kata Zaldi di Jakarta, Selasa (3.9.2019).

 

Hal itu diamini oleh Direktur Utama PT Putra Rajawali Kencana (Pura Trans) Ariel Wibisono. Dia mengatakan, prospek bisnis angkutan darat asih sangat menjanjikan, ditopang masifnya pembangunan infrastruktur dan ekspansi pabrik sejumlah perusahaan besar.

 

"Dalam beberapa tahun ke depan, populasi angkutan barang nasional diprediksi tumbuh 50% per tahun," kata dia

 

Menurutnya, pemerintah telah merampungkan pembangunan tol Trans Jawa yang membentang dari Merak hingga Probolinggo sepanjang 969 kilometer (km). Fasilitas ini dan Sistem Logistik Nasional yang terintegrasi akan mempermudah dan mempercepat arus pengiriman barang dengan menggunakan truk.

 

Dia juga mengatakan, pasar masih prospektif ditambah dengan pertumbuhan konsumsi ritel hingga 5-6% per tahun.

 

"Pasar dan fasilitasnya juga sudah ada, sehingga pertumbuhan harus meningkat. Ini juga sejalan dengan agenda pemerintah. Setelah infrastruktur tuntas, tentunya pemerintah berniat memacu ekonomi," ujar Ariel.

 

Khusus di Jawa, kata Ariel, omzet bisnis pengangkutan dengan truk tahun ini diprediksi mencapai Rp 1 triliun. Tahun depan, jumlahnya diprediksi naik 50% menjadi Rp 1,5 triliun. Tren ini akan terus berlanjut hingga empat tahun berikutnya.

 

Dia juga menyinggung soal kebijakan penempatan jembatan timbang. Dia menyarankan monitoring jembatan timbang sebaiknya ditempatkan langsung di pintu keluar masuk area industri sebagai tempat yang lalu lintas barangnya padat. Dengan begini, aturan-aturan dan regulasi pemerintah mengenai pembatasan berat dapat tersampaikan ke pemangku kepentingan, industri penghasil serta industri pemilik barang.

 

Dia juga menyarankan klasifikasi barang dapat dipetakan seperti layaknya kontainer, yakni jenis kargo umum dan kargo khusus. Tujuannya agar kapasitas dan berat dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam pengelompokan jenis barang, termasuk pengawasan dan pengaturan di jembatan timbang. (zlf/dna)

Another News :

Star Movers Bali   |   Prathama Global Trading   |   XPS Link   |   Chinese Chinese

Copyright © 2015 PT. Prathama Line Logistics