News

Sejak E-Commerce Booming di Tahun 2015, Impor Barang Meroket

 

 


Tempo.co

Oleh: Andi Ibnu

 

TEMPO.CO, JAKARTA - Menteri Kordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan meningkatnya gairah berbelanja masyarakat tak luput dari peran e-commerce yang sedang marak terjadi. Gairah ini tercermin dari data Badan Pusat Statistik yang melansir pertumbuhan indeks konsumsi masyarakat terus bertumbuh.

 

Yang terbaru indeks konsumsi rumah tangga yang juga jadi cerminan aktivitas belanja masyarakat terus moncer di angka 5,14 persen. Pertumbuhan tersebut lebih baik dari raihan beberapa kuartal yang lalu yang sempat terpuruk di angka 4,94 persen.

 

“Ya ini berkat e-commerce, masyarakat di perkotaan senang belanja dengan peralatan canggihnya,” kata Darmin di kantornya, Senin 6 Agustus 2018.

 

Berkat kemajuan teknologi dan sistem informasi masyakarat bisa belanja cukup dari telepon selulernya saja. Meski begitu, pemerintah bakal mengatur fenomena ini. Khususnya merebaknya barang impor yang dijual di gerai daring tersebut. “Kami akan cari jalan permintaan disokong dari barang yang ada di dalam negeri,” kata Darmin

 

Saat ini, pemerintah pun sedang mengebut penekenan beleid rancangan Peraturan Pemerintah tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan RPP ini setidaknya bakal mengatur perizinan, pendataan transaksi, kepastian penjualan bagi pelaku usaha lokal. “Sebulan atau dua bulan ke depan rencananya sudah jadi,” kata Rudiantara akhir pekan lalu.

 

Sebenarnya peresmian baleid tersebut sudah agak terlambat dari jadwal yang seharusnya. Peta Jalan E-commerce yang mencakup pendataan dan perizinan seharusnya dijalankan sejak awal tahun.

 

Besarnya geliat belanja online masyarakat bisa terlihat dari meningkatnya barang konsumsi impor. Persentase belanja barang konsumsi dari tahun ke tahun terus naik. Dari total impor non migas 2015 sebesar US$ 118,1 miliar hanya US$ 8,9 miliar atau 7,2 persen merupakan impor barang konsumsi. Di tahun 2017, impor barang konsumsi mengambil bagian 9 persen dari total impor sebesar US$ 156,8 miliar atau US$ 14 miliar.

 

Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto mengatakan menggeliatnya aktivitas belanja daring beberapa tahun terakhir sebenarnya juga berdampak positif terhadap sektor industri transportasi dan pergudangan. Berkat pertumbuhan di mall online tersebut, industri logistik menjadi salah satu sektor industri yang tumbuh paling positif. “Transportasi dan pergudangan tumbuh salah jadi tumbuh yang paling tinggi 8,59 persen kuartal II ini,” ujar Suhariyanto di kantornya, kemarin.

 

Asosiasi Logistik Indonesia pun membenarkan e-commerce amat membantu pemain di sektor ini. Ketua Asosiasi Zaldy Masita mengatakan jumlah permintaan jasa antar barang cukup melonjak. “Apalagi e-commerce banyak yang kasih subsidi ongkos kirim. Padahal tahun ini subsidinya sudah agak menurun,” ujar Zaldy. Sejak booming e-commerce 2015, produk domestik bruto sektor ini bertumbuh dari angka 170-an menjadi 185 di kuartal II tahun 2018.

 

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance Enny Sri Hartati mengatakan pemerintah perlu bergerak cepat mengamankan pasar bagi pelaku dalam negeri di e-commerce. “Nanti produk dalam negeri makin tersisih oleh barang impor,” kata Enny.

 

Another News :

Star Movers Bali   |   Prathama Global Trading   |   XPS Link

Copyright © 2015 PT. Prathama Line Logistics