News

Derap Langkah Pelindo II Memasuki Era Baru

 

 

 

 

 

Minggu, 25 November 2018

Oleh Euis Rita Hartati

 

Pelabuhan adalah tempat yang “basah”. Ungkapan yang lebih banyak berkonotasi negatif itu sudah lama terdengar dan seolah menjadi rahasia umum. Bagi oknum-oknum tertentu, pelabuhan menjadi surga untuk meraih keuntungan melalui aksi pungutan liar atas berbagai aktivitas yang ada di sana. Tentu saja, lebih banyak pihak yang dirugikan daripada yang diuntungkan karena pada akhirnya menimbulkan ekonomi biaya tinggi yang berujung pada inefisiensi di berbagai sektor.

 

Membenahi pelabuhan secara menyeluruh bukan perkara mudah. Menanggalkan citra buruk yang begitu lama melekat menuju era baru, butuh komitmen yang kuat dan program kerja yang terarah. Hal ini pula yang harus dilakukan oleh PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo II, atau yang dikenal dengan IPC (Indonesia Port Corporation). Ini menjadi penting dilakukan karena Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang logistik, secara spesifik pada pengelolaan dan pengembangan pelabuhan ini, mengoperasikan 12 pelabuhan yang terletak di 10 provinsi Indonesia, dimana salah satunya adalah Pelabuhan Tanjung Priok yang menangani hampir 70% kegiatan impor ekspor di Tanah Air.

 

Ketua Umum Indonesia National Ship Owner Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan, pelabuhan memang dituntut untuk terus dilakukan pengembangan, baik sarana maupun prasarananya, baik di pelabuhan maupun akses di luar pelabuhan. Terutama, pelayanan pelabuhan agar dapat lebih kompetitif. “Peningkatkan efisiensi dan efektivitas arus barang dan kapal ini untuk menekan biaya logistik,” kata Carmelita Hartoto kepada Investor Daily di Jakarta, Sabtu (24/11).

 

Sementara itu, Chairman Asosiasi Logistik Indonesia Zaldy Ilham Masita berpendapat, untuk memasuki era baru, harus dimulai dari perubahan mindset. “Ganti mindset. Pelindo II perlu revolusi mental secara menyeluruh. Mengubah paradigma pelabuhan sebagai tempat mengeruk keuntungan sebesar-besarnya menjadi pelabuhan dengan service level yang bagus dengan biaya yang murah,” kata Zaldy kepada Investor Daily.

 

Pencanangan transformasi sesungguhnya sudah dilakukan Pelindo II pada 2012 atau tepatnya pada 22 Februari 2012, saat meluncurkan identitas baru Pelindo II dan bertransformasi menjadi IPC (Indonesia Port Corporation). Logo baru IPC juga mewakili semangat transformasi serta harapan akan awal yang baru demi menyongsong masa depan yang lebih cerah. Hal ini sejalan pula dengan visi perusahaan, yakni Menjadi Pengelola Pelabuhan Kelas Dunia yang Unggul dalam Operasional dan Pelayanan.

 

Perusahaan juga memiliki program yang diberi nama IPC Bersih, yakni program nyata dari manajemen Pelindo II dan anak perusahaan untuk mewujudkan tempat kerja yang bersih dari tindakan curang, korupsi, dan pemerasan.

 

Dari sisi sarana dan prasarana, era baru dalam pengolahan pelabuhan antara lain ditandai dengan kapal berkapasitas 8.238 TEUs berhasil sandar di dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT), Pelabuhan Tanjung Priok pada April 2017 lalu. Menurut Direktur Utama IPC, Elvyn G. Masassya saat itu, kedatangan kapal ini merupakan era baru karena sebelumnya hanya kapal dengan kapasitas di bawah 5.000 TEUs yang dapat bersandar di sana. "Sekarang sudah bisa melayani kapal raksasa yang kapasitasnya di atas 8 ribu TEUs dan akan terus meningkat sampai 14 ribu TEUs," katanya.

 

 

Digitalisasi dan Kinerja

Sejalan dengan perkembangan industri layanan jasa kepelabuhanan dunia international, IPC juga mengembangkan inovasi layanan Digital Port System, yakni sebuah sistem pelayanan pelabuhan berbasis online. Melalui teknologi digital di semua lini, seluruh layanan di IPC menjadi semakin cepat, lebih mudah, dan lebih murah. Semua ini diharapkan akan mampu menekan biaya logistik nasional dan pada pada akhirnya akan meningkatkan daya saing produk nasional.

 

Selain itu, nilai tambah dari Digital Port System juga diharapkan mampu membangun konektifitas logistik nasional, bahkan di tingkat global internasional. Di tingkat nasional, IPC sudah menerapkan terminal operating system petikemas, E-Payment, pengembangan terminal operating system untuk non-petikemas, implementasi MOS, Truck Announcement, TPS Online, dan auto-gate system. Sementara implementasi di lingkup global, yakni upaya membangun konektivitas dengan ratusan pelabuhan dunia internasional untuk layanan vessel scheduling, vessel booking, e-VGM, e-BL, dan monitoring vessel.

 

Carmelita Hartoto menilai, pelayanan dengan sistem digital memang diperlukan untuk menjawab tantangan pelabuhan masa depan.. “Era digital saat ini, semua layanan dan informasi dituntut untuk lebih cepat, tepat dan akurat,” katanya.

 

Dengan digitalisasi pelabuhan, lanjut dia, pelayaran bisa langsung mendapatkan akses informasi terkait pergerakan kegiatan, dan biaya-biaya kapal setiap saat secara cepat dan akurat. “Dan yang penting, kami harap, layanan digital di pelabuhan ini akan mendorong terjadinya efisiensi biaya dan waktu pelayanan kapal,”katanya. Karena itu, pihaknya mengapresiasi langkah-langkah dan pengembangan yang dilakukan IPC selama ini.

 

Hal senada dikemukakan Zaldy Ilham. Menurut dia, digitalisasi pelabuhan sangat penting dan sudah harus dilakukan dengan cepat, karena Indonesia sudah tertinggal dengan pelabuhan di negara Asean lainnya seperti Malaysia, Singapura dan Thailand.

 

Namun dia mengingatkan agar proses digitalisasi jangan hanya dianggap sebagai upaya mengubah proses dokumen dari offline ke online semata. “Pendekatan ini salah. Yang perlu dilakukan juga adalah mengubah bisnis proses agar lebih pendek dan pasti, dan juga perlu sikap tegas regulator seperti Kementerian Perhubungan, untuk memaksakan implementasi digitalisasi ke semua pelaku secara merata, tidak ada pengecualian,” tegasnya.

 

Apa yang dilakukan manajemen Pelindo II kiranya sudah menampakkan hasil. Setidaknya terlihat dari kinerja yang berhasil dicapai pada 2018 ini. Tercatat pada semester pertama 2018, Pelindo II berhasil meraih laba bersih sebesar Rp 1,21 triliun, meningkat 18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni Rp 1,02 triliun. Pendapatan usaha mencapai Rp 5,35 triliun atau naik 8,18% dibandingkan perolehan semester pertama 2017 yang mencapai Rp 4,93 triliun.

 

Sementara itu, jumlah peti kemas yang keluar masuk pelabuhan sepanjang semester pertama meningkat 10,18%, dari 3,28 juta TEUs menjadi 3,62 juta TEUs. Jumlah kapal yang keluar masuk juga bertambah 10,68% yakni dari 94,58 juta Gross Tonnage (GT), menjadi 104,68 juta GT. Adapun arus barang non peti kemas mengalami penurunanan 1,82%, dari 27,97 juta ton menjadi 27,44 juta ton. Jumlah penumpang meningkat 21,85% dari 260,42 ribu menjadi 317,31 ribu penumpang.

 

Another News :

Star Movers Bali   |   Prathama Global Trading   |   XPS Link

Copyright © 2015 PT. Prathama Line Logistics